Nilai-Nilai Kebangsaan Mbah Moen - Fakultas Ilmu Administrasi

FIA-UNISMA, MALANG- Selasa 6 Agustus 2019 Indonesia berduka. Kondisi langit Makkah, Arab Saudi yang cerah seolah mengiringi meninggalnya seorang ulama, kiai, guru-bangsa yang kharismatik yakni; KH. Maemoen Zubair dengan usia nyaris 91 tahun (1928-2019) pukul 04.17 waktu setempat. Ia lebih dikenal dengan nama Mbah Moen. Pemimpin pondok yang berhasil mendidik dan mengantarkan ribuan santri dan alumni yang berdakwah mendedikasikan diri meraka kepada bangsa dan negara di seluruh pelosok nusantara. Seperti yang kita pahami bahwa ‘mautul alim, mautul alam’. Dalam konteks ini, setidaknya dapat dipahami sebagai meninggalnya orang alim, maka akan berdampak pada gelapnya kehidupan di alam ini. Kenapa demikian? Sebab posisi dan kiprah para ulama di dalam kehidupan sosial-politik sangatlah didambakan. Ia tidak hanya mentransmisikan pengetahuan ‘an-sich’ saja, namun, praktik-praktik artikulasi dari nilai-nilai yang ia yakini sebagai kebenaran itulah, sanggup menerangi jalan kehidupan di tengah-tengah meningkatnya degradasi moralitas kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara yang dewasa ini cenderung diartikulasikan secara ironis.

Sebagai orang yang pernah belajar di Pondok Pesantren Sarang-Rembang, penulis merasakan bagaimana Mbah Moen dapat mengartikulasikan seluruh keyakinannya ke-dalam praktik-praktik kehidupan baik di Pesantren atau pada spektrum kehidupan yang lebih luas yakni; berbangsa dan bernegara. Kedalaman ilmu dan kesantuan dalam sikap dan perilaku dalam beragama dan bernegara itulah, menjadikan Mbah Moen sebagai rujukan nomor ‘wahid’ bagi para calon Kepala Daerah hingga calon Presiden. Seolah-olah jika belum ‘sowan’ atau silaturrahim, ada hal yang kurang sempurna di dalam sirkuit atau ranah politik kekuasaan. Oleh karena itu, jika melihat seluruh kiprah Mbah Moen, ia bisa dikatakan konsisten sebagai ‘ulama-aktivis’ yang hidup pada tiga periode perjalanan panjang kehidupan berkebangsaan ini yakni; pra-kemerdekaan, pasca-kemerdekaan dan era-reformasi sekarang ini. Sehingga, tidaklah berlebihan jika kemudian ide, gagasan dan pemikiran berkebangsaannya, terumus ke-dalam wacana yang disingkat dengan ‘PBNU’ atau Pancasila, Binneka Tunggal Ika, NKRI dan Undang-undang Dasar 1945. Sebuah politik pewacanaan yang tidak hanya dapat kita pahami sebagai ‘political criticism’ terhadap proyek-proyek politik trans-nasional yang selama ini diusung oleh entitas-entitas tertentu.

Sehingga, dengan cara pandang ini, maka praktik dari artikulasi pewacanaan tersebut, kehidupan berbangsa dan bernegara, seharusnya melampaui sekat-sekat partikularistik yang sering menjadi jurang pemisah di dalam merajut keharmonian dalam perbedaan. Kita harus sadar bahwa, jika melihat fenomona akhir-akhir ini, kehidupan berbangsa dan bernegara nyaris terun bebas ke-dalam praktik ‘political identity’ yang oleh Clarissa Rile Hayward dan Ron Watson (2010) dipahami sebagai proses re-aktualisasi pengalaman dan masalah politik demi meraih tujuan dan kebaikan bagi kelompok identitas sendiri. Sebaliknya, Mbah Moen meskipun berkiprah dalam partikularitas politik, namun ide, gagasan dan pemikirannya melampaui sekat partikular dari identitasnya sendiri. Ulama adalah pewaris para Nabi atau ‘al-ulama warasatul anbiya’. Sehingga, kehadirannya di tengah-tengah kekalutan sosial-politik kehidupan berbangsa dan bernegara ini, menjadi semacam ‘oase’ atau mata air keteladanan atas keringnya nilai-nilai keteladanan yang tidak mampu ditunjukkan secara paripurna oleh para politisi dan elit bangsa ini, kebanyakan. Keringnya nilai-nilai keteladaan di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, disebabkan tidak lain adalah ketidakpahaman mereka akan makna berkebangsaan yang terwujud ke-dalam ideologi Pancasila, berkehidupan yang harmoni di tengah pluralisme identitas masyarakat, persatuan dalam perbedaan atau ‘unity in diversity’ dan berkonstitusi secara rasional yang kemudian menjadi dasar atau fondasi bernegara yakni; Indonesia. Dengan pemahanan di atas, maka politik pewacanaan ‘PBNU’ yang diusung oleh Mbah Moen, menemukan titik relevansi dan rasionalitas politiknya guna mencerahkan dan mencerdaskan anak bangsa atas krisis pemahaman politik kebangsaan yang diartikulasikan secara sempit oleh sebagian saudara-saudara kita dewasa ini.

Mereka yang mengusung ide dan gagasan pemikiran dari proyek politik identitas, seharusnya sadar diri bahwa di atas segala kepentingan politik yang partikularistik itulah ada sisi kemanusiaan yang wajib dimuliakan di atas segalanya. Dengan wacana ‘PBNU’, Mbah Moen setidaknya ingin berpesan bagi kita semua warga bangsa Indoensia untuk selalu menjaga, merawat dan mengembangkan negara ini menuju negara yang damai dan sejahtera bagi seluruh rakyatnya. Meninggalnya Mbah Moen sebagai ulama NU kharismatik, yang oleh Kiai said Aqil dianggap sebagai ‘paku bumi’-nya negara Indonesia adalah menjadi duka kita semua, sekaligus menjadi tantangan bagi bangsa ini untuk kemudian melanjutkan ide, gagasan dan pemikiran Mbah Moen yang terwujud ke-dalam wacana ‘PBNU’ selama ini. Mbah Moen, selama ini dikenal sebagai tokoh atau pemimpin agama (PP.Anwar Sarang-Rembang) yang bagi penulis dan banyak orang telah merasakan apa yang telah Mbah Moen perjuangkan yakni; mengayomi, membina dan membimbing umat dari berbagai macam permasalahan, baik masalah agama, sosial, politik ataupun masalah yang dihadapi sehari-hari lainnya seperti masalah dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.
Sebagai bukti duka kolektif kita semua, sebaiknya hari ini kita mulai memikirkan kembali bagaimana seharusnya praktik-praktik kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama ini ke-depan dengan pijakan nilai-nilai kebangsaan yang sudah Mbah Moen contohkan dan perjuangkan selama ini, baik di Pesantren atau dalam kiprah politiknya. Ia memperjuangkan negara ini sebagai negara kesepakatan dari berbagai suku, agama, ras dan budaya. Dengan pengertian ini, maka negara ini adalah negara anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa, dan sudah sepatutnya kita untuk merayakannya dengan sebaik-baiknya. Yang lebih penting dari semua ini adalah meninggalnya seorang ulama, berarti dihilangkannya ilmu dari bumi ini. Ketika ilmu ini telah tiada, kehidupan manusia akan kehilangan pijakan dari praktik-praktik artikulasi kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara.

 

Pengajar di Universitas Islam Malang
Alumni PP. Sarang-Rembang
Menulis Disertasi ‘Politik Tasawuf Kontemporer Gus Mus’ FISIPOL UGM